Tracheostomy: Mengapa Penting Untuk Dilakukan?

Gangguan pernafasan adalah salah satu gangguan yang umum terjadi pada manusia. Namun jika kondisinya sangat parah, salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah tracheostomy.

Tracheostomy merupakan cara yang efektif untuk memberikan pernafasan melalui selang nafas. Selang nafas dimasukkan ke bagian leher manusia setelah mengangkat trakea untuk membuka jalur pernafasan.

Jenis Prosedur Tracheostomy

Tracheostomy perlu dijalankan berdasarkan kondisi pasien, apakah kondisinya parah atau tidak. Pasien yang menjalani tracheostomy, terjadi hanya untuk sementara atau secara permanen. Selain bergantung seberapa parah gangguan pernafasan yang dialami pasien, tracheostomy dibagi menjadi dua prosedur, terdiri dari:

  • Tracheostomy emergensi

Tracheostomy emergensi atau tracheostomy darurat adalah prosedur yang perlu dijalankan pasien jika mereka mengalami gangguan pernafasan yang parah. Contohnya adalah jalur pernafasan di atas trakea yang tersumbat.

  • Tracheostomy non-emergensi

Tracheostomy non-emergensi atau tracheostomy non-emergensi adalah prosedur yang perlu dilakukan jika pasien mengalami masalah pernafasan yang tidak begitu buruk. Ada berbagai alasan jenis tracheostomy ini perlu dilakukan, salah satunya adalah sebelum melakukan pembedahan tenggorokan atau rongga mulut.

Alasan Pasien Perlu Menjalankan Tracheostomy

Pasien yang mengalami gangguan pada pernafasan yang parah perlu dioperasi, caranya meliputi tracheostomy. Ada berbagai alasan tracheostomy perlu dilakukan. Alasan tersebut adalah berdasarkan kondisi medis yang dialami pasien, yang meliputi:

  • Pasien yang membutuhkan ventilator dalam jangka waktu yang lama, berkisar antara satu sampai dua minggu.
  • Kondisi yang membuat saluran pernafasan pasien tersumbat. Contohnya adalah kanker tenggorokan dan kelumpuhan pita suara.
  • Penyakit saraf yang mengakibatkan pasien kesulitan untuk batuk dan mengeluarkan dahak.
  • Pasien yang mengalami trauma di bagian kepala, khususnya pada bagian leher, yang mengakibatkan gangguan pada saluran pernafasan.
  • Selang nafas yang tidak dapat dimasukkan melalui mulut.

Siapa Yang Perlu Menjalankan Tracheostomy?

Gangguan pernafasan bisa terjadi pada siapa saja. Jika kondisinya parah, mereka perlu menggunakan tracheostomy untuk menghentikan hambatan pada pernafasan. Petugas medis perlu menerapkan tracheostomy kepada pasien yang mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Anafilaksis atau reaksi alergi berat.
  • Penyakit paru kronis.
  • Kanker leher.
  • Luka bakar.
  • Gangguan fungsi diafragma.
  • Infeksi.
  • Cedera pada laring.
  • Luka pada bagian kepala.
  • Cedera pada dinding dada.
  • Tumor.
  • Pita suara yang terluka.
  • Otot leher yang lumpuh.

Prosedur Dalam Menjalankan Tracheostomy

Tidak ada instruksi khusus yang diberikan kepada pasien untuk melakukan tracheostomy. Seperti yang dijelaskan di atas, proses tersebut bergantung pada kondisi pasien. Ada kemungkinan jika mereka perlu melakukan tracheostomy sekali. Namun, jika kondisinya sangat parah, pasien perlu melakukan prosedur tracheostomy secara permanen.

Jika pasien bersedia menjalankan tracheostomy, mereka tidak perlu mempersiapkan apapun. Namun, untuk prosedurnya, agar berjalan dengan lancar, pasien perlu puasa setidaknya 12 jam sebelum operasi. Pasien tentunya akan dibius total ketika dokter melakukan tracheostomy.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh dokter bergantung pada kondisi medis pasien. Berikut adalah penjelasan atau perbandingan tentang langkah yang digunakan:

  1. Tracheostomy emergensi

Pasien awalnya diminta untuk berbaring. Setelah itu, pasien akan dibius secara total. Setelah pasien tidak sadarkan diri, dokter memulai prosedur ini dengan memberikan sayatan pada leher. Dokter akan membuka trakea agar dapat memasukkan selang nafas yang disambungkan ke suplai oksigen.

  • Tracheostomy non-emergensi

Dokter akan meminta pasien untuk berbaring telentang, kemudian pasien dibius total. Setelah itu, dokter memulai proses ini dengan membersihkan leher dan dada pasien dengan menggunakan bahan antiseptik. Dokter akan membuat sayatan di bagian bawah leher pasien. Kulit di bagian tenggorokan disayat secara horizontal, setelah itu otot-otot dipisahkan.

Setelah memberikan sayatan pada bagian leher, kelenjar tiroid di dalam tubuh akan ditarik sedikit ke belakang agar dokter dapat melihat trakea. Setelah melihat trakea, trakea disayat untuk memudahkan proses pernafasan melalui selang nafas. Selang nafas kemudian dijahit supaya posisi pernafasan pasien teratur.

Jika pasien ingin melakukan tracheostomy, pasien perlu ketahui bahwa tracheostomy terdapat risiko yang menungkinkan terjadi pada pernafasan. Contohnya adalah penyempitan pada trakea dan infeksi paru-paru.

Sebelum melakukan tracheostomy, pasien sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan dokter sebelum menjalankan proses tersebut. Tracheostomy yang dilakukan belum tentu dapat menyembuhkan gangguan pernafasan secara permanen. Gangguan pernafasan mungkin saja terjadi kembali.

Penyakit

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*