Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Skiatika

Apakah Anda pernah mendengar gejala kesehatan bernama skiatika? Skiatika adalah nama yang diberikan pada suatu gejala rasa sakit yang disebabkan oleh iritasi pada saraf siatik. Apapun yang dapat mengiritasi saraf ini dapat menyebabkan rasa sakit, mulai dari rasa sakit ringan hingga berat. Skiatika biasanya disebabkan oleh saraf yang tertekan di bagian bawah tulang belakang. Istilah skiatika sering disalahartikan dengan sakit punggung pada umumnya. Namun, skiatika tidak hanya sebatas rasa sakit di bagian punggu. Saraf siatik adalah saraf terpanjang dan terluas di tubuh manusia, yang berawal di punggung belakang, melalui pantat, kaki, dan berakhir di bagian bawah lutut. Saraf ini mengatur beberapa otot di bagian bawah kaki dan menyediakan sensasi pada kaki dan bagian bawah kaki. Skiatika bukanlah sebuah kondisi kesehatan, melainkah sebuah gejala dari masalah lain yang mempengaruhi saraf siatik. Beberapa ahli memperkirakan setidaknya 40% orang di seluruh dunia pernah mengalami skiatika sebelumnya.

Penyebab skiatika

Skiatika merupakan gejala umum pada beberapa kondisi medis yang berbeda-beda. Akan tetapi, sekitar 90% kasus skiatika yang ditemukan disebabkan karena piringan sendi yang geser. Kolom tulang belakang terbuat dari 3 jenis, tulang belakang, saraf, dan piringan persendian. Piringan sendi terbuat dari tulang rawan yang kuat dan elastis. Tulang rawan akan bertindak sebagai bantalan antara tulang belakang dan memberikan tulang belakang fleksibilitas. Piringan sendi yang mengalami herniasi terjadi ketika piringan sendi tersebut didorong keluar dari tempatnya, sehingga memberikan tekanan pada saraf siatik. Penyebab skiatika yang lain termasuk stenosis spinal lumbalis (penyempitan medulla spinalis di bagian punggung bawah), spondylolisthesis (suatu kondisi di mana piringan sendi tergelincir ke depan pada tulang belakang di bawahnya), tumor di dalam tulang belakang (hal ini akan memberikan tekanan pada akar saraf siatik), infeksi (yang akhirnya akan memberi efek pada tulang belakang), cedera pada tulang belakang, dan sindrom cauda equina (sebuah kondisi langka namun serius yang mempengaruhi saraf di bagian bawah sumsum tulang belakang. Kondisi ini membutuhkan perawatan medis dengan segera).

Faktor risiko skiatika

Ada banyak faktor yang dapat membuat Anda rentan terkena skiatika. Skiatika dapat menyerang semua kalangan, mulai dari atlit hingga mereka yang jarang bergerak atau kurang aktif. Mereka yang jarang bergerak biasanya memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita skiatika dibandingkan dengan orang-orang yang aktif. Meskipun demikian, atlit ketahanan juga bisa mendapatkan skiatika akibat berlatih terlalu berlebihan dan otot yang kaku.

Usia juga merupakan faktor yang signifikan bagi seseorang untuk menderita skiatika. Orang-orang yang berumur 30 hingga 60 tahun sering mengalami degenerasi tulang belakang yang disebabkan karena faktor usia, termasuk herniasi piringan sendi, taji tulang, dan disfungsi persendian pada pinggang. Obesitas dan diabetes juga merupakan contributor utama skiatika. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, juga dapat membuat bagian luar piringan sendi Anda untuk rusak. Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami skiatika dan merasakan gejala-gejala seperti rasa sakit setelah kecelakaan, rasa sakit tiba-tiba pada bagian punggung bawah atau kaki yang diikuti dengan mati rasa dan lemah otot pada kaki yang sama, serta Anda tidak mampu mengontrol perut atau kandung kemih (tanda-tanda sindrom cauda equina). Dokter akan melakukan diagnosa, melihat alasan utama penyebab skiatika, dan melakukan perawatan yang tepat yang dibutuhkan oleh Anda.

Penyakit Read More

Macam-Macam Perawatan Asma

Asma adalah kondisi di mana saluran pernafasan membengkak, sehingga terjadi penyempitan dan mengeluarkan lendir berlebih. Kondisi ini membuat penderita kesulitan bernafas dan bisa menyebabkan batuk, nafas berbunyi dan pendek-pendek.

Jika Anda atau anak Anda mengidap asma, Anda harus mengetahui cara mengatasinya, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Bagi sebagian penderita, asma tidak lain hanya gangguan kecil yang akan hilang dengan sendirinya dengan beristirahat. Namun, bagi penderita lain, asma dapat mengganggu aktivitas harian, bahkan mengancam nyawa. Hal terpenting dalam penanganan asma adalah mengidentifikasi situasi darurat. Di momen tersebut, yang bisa kita lakukan adalah meminta bantuan dokter atau spesialis penanganan asma.

Obat Asma

Obat asma dapat menyelamatkan hidup penderita asma. Obat ini juga membuat penderitanya bisa beraktivitas normal. Terdapat dua jenis obat yang biasa digunakan:

– Steroid dan obat anti peradangan: Obat anti peradangan, terutama steroid yang dihirup, merupakan pengobatan paling penting bagi penderita asma. Obat ini bekerja dengan mengurangi pembengkakan dan lendir pada saluran pernafasan. Hasilnya, saluran pernafasan tidak lagi sensitif dan bereaksi terhadap pemicu asma.

-Bronkodilator: Bekerja dengan merelaksasi otot saluran pernafasan yang membuat penyempitan. Obat ini bekerja dalam waktu singkat dan ditujukan sebagai penyembuhan sementara bagi gejala asma, seperti batuk, nafas berbunyi, dan nafas pendek-pendek. Bronkodilator tidak ditujukan sebagai obat rutin penyembuh asma.

Inhaler

Inhaler merupakan cara paling efektif dan sering digunakan untuk mengantarkan obat asma ke paru-paru. Terdapat beberapa tipe dan teknis pengantaran inhaler.

Nebulizer

Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk memasukkan obat dalam bentuk uap untuk dihirup ke dalam paru-paru. Mesin ini menggunakan mouthpiece atau masker, biasa digunakan untuk anak kecil atau manula yang kesulitan menggunakan inhaler. Perubahan bentuk dari cair ke uap membuat obat lebih mudah diserap paru-paru.

Prednison

Jika Anda mengalami serangan asma akut, dokter dapat memberikan prednison, obat golongan kortikosteroid yang berfungsi untuk mengurangi peradangan. Obat minum ini biasa digunakan dalam waktu kurang dari dua pekan. Konsumsi kortikosteroid dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek negatif dan permanen. Efek samping yang bisa timbul adalah pembengkakan, depresi, dan gejala radang pankreas serta gejala hipertensi. Setelah serangan asma mereda, dokter akan mengurangi kebutuhan prednison.

Konsultasi dengan dokter

Hal terpenting bagi penderita asma adalah saran dari dokter. Jangan sekali-kali membeli obat langsung tanpa resep dokter. Sebab, kondisi masing-masing penderita asma tidak sama. Jika, Anda terdiagnosa asma namun pengobatan tidak lagi mempan, sebaiknya kembali berkonsultasi dengan dokter. Jika Anda sudah diberi obat seperti inhaler, namun penggunaannya makin hari makin sering, kembalilah ke dokter. Dokter dapat mengevaluasi pengobatan yang pasien butuhkan.

Meskipun asma adalah penyakit yang banyak ditemui, kondisi ini tetap membutuhkan diagnosis dan pengobatan medis yang spesifik. Jangan berpikir dua kali untuk mengobati asma Anda.

Penyakit Read More